This is default featured slide 2 title

Motivasi Belajar Ala Imam Al-Ghazali

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

Puisi Suara yang terabaikan


Suara Yang
Terabaikan

Oleh; Ibnu El – Fasiy
santri MUDI



Semilir dingin pagi berhembus sepoi
Membuat suasana balai terasa begitu sepi

Tak bisa kubayangkan
Suara yang kau dengar itu
Kau anggap hanya dongeng sebelum tidur

Dinyanyikan rindu sang bunda tersayang
Tapi, bagaimana dengan suara tersayat –sayat

Tertunduk lesu melafalkan kata – kata?
Samakah dengan sang pendongeng belaka
Yang ngin meninabobokan mu?
Agar bermimpi indah dalam anganmu
Sungguh begitu dhalim kebejatanmu
Dimanakah letak nuranimu?
Kau iris suara nan serak itu
Kau abaikan suara itu
Tanpa sedikitpun iba di benakmu

Dengan keikhlasannya
Beliau rela mengumbar suaranya
Walaupun bagaikan pasir putih
Diterbangkan angin tanpa arah yang pasti
Tanpa arah yang bersemai di hatimu
Maka renungkanlah...!!!

Rabu, 03 September 2014

Puisi Pemuda Harapan Bangsa


Pemuda Harapan
Bangsa
Oleh; El – Faqir,
santri MUDI


Wahai pemuda...
Bangunlah, bergegaslah
Dunia berlinang darah
Sing – singkanlah lengan baju
Siapa lagi kau bukan dirimu

Wahai pemuda...
Jangan terlena oleh dunia
Engkau harapan bangsa
Harapan agama dan orang tua
Engkau harapan dunia

Wahai pemuda...
Engkau pemegang kunci
Masa depan dunia ditentukan di sini
Kau biarkan dirampas oleh yahudi
Atau engkau bangun negara madani

Wahai pemuda...
Serambi mekkah tanah yang mulia
Nan indah dan bersahaja
Relakah engkau dihancurkan oleh mereka
Atau kau pertahankan sekuat tenaga

Wahai pemuda...
Hiduplah menjadi seorang yang mulia
Atau mati sebagai seorang syuhada

Jumat, 04 Juli 2014

GERIMIS PETANG DI PEMATANG KAMPUNGKU


GERIMIS PETANG DI PEMATANG KAMPUNGKU

By: Sayuti layung


Sudah tiga bulan berlalu keceriaan itu terjadi
Ceria yang tidak pernah terperi tanpa sedih di hati
Hari ini, semua terulang kembali
Bersama keluarga, ayah bunda dan alam yang  siap menemani
Ku berjalan di atas pematang, dengan tangan yang terentang, melambaikan butiran-butiran padi
Pisau sabit ditangan, hingga kuterus berjalan mengenang kenangan-kenangan yang pernah terlewatkan
Ayah bunda, terimakasih engkau telah setia sepanjang masa
Menumbuhkan padi, di pematang dan dihati ini
Dengan air ini, kalian rela membuang segala duka demi menghidupkan kegembiraan kami semua
Tanpa kalian, tidak akan ada padi di pematang
Juga tidak akan tercipta jalan hidup dengan tenang
Hari ini, kami anak-anak mu semua sedang merasakan
Dukanya dalam kenikmatan yang pernah kalian lewatkan
Yang telah lama kami rasakan
Bersama indahnya matahari tenggelam
Sore ini, gerimis petang kembali datang ditengah pematang gerimis
Duka yang telah berlalu, dan yang hanya tinggal kenangan
Ku lambaikan kembali jemari tangan di tengah pematang tanda syukurku pada Ilahi, karena telah menghidupkan padi di pematang Dn di hati ini.

By: Sayuti layung

Rabu, 02 Juli 2014

Kiasan kata dan do’a buat bidadari dunia


Kiasan kata dan do’a buat bidadari dunia

(Fayat zabihullah Va)

Ingin ku pandang langit,
agar matanya cepat bersinar
ingin kutatap bintang-bintang agar warnanya tak kan hilang
Ingin ku bersama rembulan, agar ia tidak akan sendirian
Ingin juga ku bersama malam, agar ia tidak kesepian
Bersinarnya langit memberikan sebuah kehhidupan
Bagi jiwa-jiwa yang terus berzikir kepada Ar-rahman
Jiwa yang tidak pernah sepi dengan hati yang selalu terang
Yang tulus berjuang untuk menghilangkan murka Tuhan
Tidak hilangnya warna bintang, menciptakan sebuah harapan
Menobatkan perhatian akan indahnya cipta rahmat Tuhan
Mereka terus memuji, merkalungkan surban, tanpa ada kesedihan
Dengan wajah tertutup rapi, yang bakal jauh dari godaan
Mereka terus berjalan menaburkan benih kasih Ar-rahman
Tidak sendirinya rembulan ialah hal yang selalu mereka yakinkan
Bahwa disana ada banyak insan yang juga berjuang demi Ar-rahman
Mereka yang selalu berselawat tanpa ada sebenih penyesalan
Karena mereka yakin yang bersurban tertutup ialah rahman tuhan
Tidak sepinya malam juga menjadi semangat mereka berjuang
Hingga masa bertasbih, bersama dalam nauanganRabbana
Tahajjud yang ada, khafadzan dari dunia, terus mereka bina
Moga benar cinta dari Ar-rahman ada dihati dan jiwa mereka hingga terselip
Satu nuqtah cinta dari sang pencari ridha Rabbana tentunya buat mereka, para bidadari-bidadari didunia……


Fayat zabihullah Va


Minggu, 29 Juni 2014

KERINDUAN SEORANG ALUMNI


KERINDUAN SEORANG ALUMNI

Oleh : Asad Mursalin Muhammad

Di sini tanpa jubah dan sorban putih..
Disini tanpa "areh" yang membangunkanku jam 5 pagi,
dengan tongkatnya membisingkan pembaringan di hujung malam.
Di sini tanpa panduan surat Yasin di sore hari..
Di sini enggak ada "ribathul madinah" sebagai sandaran penghibur hati..
Aku kangen, aku rindu...
Terlalu banyak kenangan yang sampai bila pun takkan luput dari ingatan..
Sekarang, Setiap hari jum'at jam 3 petang,
Dalam lamunan seakan terdengar suara "teungku" piket memanggil namaku.
Dari TOA di puncak mesjid dekat gang DOLLAR bersuara,
"NAD'UU ILAA AKHINAAL KIRAM, TEUNGKU *ASAD MURSALIN* MIN LHOKSEUMAWE AN TAHDHURA ILAA MARKAZIL ISTI'LAAMAT LIANNA DHAIFA YANTADZIRUKA HUNA"
Setelah suara itu padam dari kejauhan,
Tersentak lamunanku lalu bertanya.
Dimana suara itu,
 dimana posko?
 Dan dimana tamuku ?
 Hati kecil menjawab,
 Hey, itu hanya mimpi,
itu hanya hayalan,
 Sekarang kamu bukan di gang AL-FATH blakang SERAWAK,
Sekarang kamu bukan di MUDI MESRA.
 Sekarang kamu bukan tidur siang di ribathul madinah,
Tapi kamu hanya istirahat di kamar usang gudang impian.
Tanpa terasa air mata membasahi pipi..
 Aku bukan lagi santri, Aku bukan lagi di MUDI..
Hati menjerit dalam kekalutan,
Rasa kangen dan rindu pun tak mampu kubendung lagi..
MUDI.. Oh MUDI

By : Redaksi

Sabtu, 05 April 2014

PUISI MENANTI

MENANTI



Telah semusim kusyairkan namamu
Dalam senandung surau tua
Disetiap penghujung malam
Kau hadir dan merampas ratep- ratep malam ku
Namun  rindu tetap saja
Dihancurkan karna  rumitnya biokrasi mimpi,,,,,,
Laluuuu hanyut   dalam
Berawang laut selat malaka dan
Hilang ditelan kabut cot lipah ,,,seperti
Diam tak  kenal wajah dan
Mengartikan arti rindu ,,atau kita tunggu
Saja bunga mekar di bukit –bukit  rata
 tuk ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Kuingat  sebuah nama ,karena namamu seharum bunga  meulu yang selalu
Berbau kemana- mana   ,,,,

NB : tidak boleh  memperbanyak
        tanpa izin pengarang